Timeless Elegance. Perpaduan keindahan yang melampaui batasan waktu. Ia tidak sekedar berlalu, tetapi selalu relevan dan memikat, dari masa ke masa. Terdapat keanggunan yang sederhana namun memukau, memadukan kesempurnaan gagasan, kualitas yang abadi, dan rasa hormat terhadap nilai-nilai klasik. Timeless Elegance tidak menuntut perhatian, namun tetap memancarkan pesona yang tak terbantahkan—sebuah perwujudan keindahan yang selalu dirayakan oleh setiap generasi.

Yasa amrta

Pembangunan rumah ini dimulai pada bulan Mei 2018 dan diserahterimakan pada bulan November 2021. Kawasan rumah adat ini memiliki luasan ±4.571,25 m2. Nama Yasa Amrta sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Yasa yang artinya Kekal/Abadi sedang Amrta berarti Kehidupan. Secara keseluruhan berarti Kehidupan Abadi.

 

Secara keseluruhan terdapat 3 koleksi rumah adat dan 1 bangunan gapura. Rumah-rumah tersebut adalah koleksi pribadi Ibu Giok Hartono.

Regol atau Gapura adalah pintu atau gerbang masuk ke halaman utama dari sisi selatan rumah.

Memiliki 11 trap tumpangsari.

Rumah A (Griya Ageng) adalah rumah yang di tengah dan paling besar yang difungsikan sebagai rumah utama. Rumah ini memiliki ruangan yang lengkap mulai dari ruang tamu (Jogo Satru) dengan saka tunggal (Saka Geder) di sebelah kiri yang menandakan pemilik rumah tersebut adalah wanita.

Ruang selanjutnya adalah kamar tidur (Gedongan) di sisi dalam, memiliki 9 trap tumpangsari. Ruang di sebelah kiri (timur) adalah Pakiwan/Pawon atau dapur. Dicirikan terdapat angin-angin untuk keluar asap. Terakhir ada ruang tambahan (Gandokan) di sebelah barat yang difungsikan sebagai gudang.

Rumah B (Griya Kilen) adalah rumah di sebelah sisi barat. Hanya memiliki ruang tamu dan ruang tidur yang memiliki 11 trap tumpangsari. Difungsikan sebagai lokasi penempatan 1 set gamelan koleksi Ibu Giok Hartono. Gamelan tersebut didapatkan di daerah Sragen dan memiliki sertifikat resmi.

Rumah C (Griya Wetan) adalah rumah di sebelah sisi timur. Sama seperti Griya Wetan, hanya memiliki ruang tamu dan ruang tidur yang memiliki 11 trap tumpangsari.

Kulah atau Kamar Mandi adalah bangunan yang terdiri dari sumur, bilik tak berpintu untuk tempat mandi dan buang hajat, serta ada padasan atau kendi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Biasanya kulah berada di samping kiri depan rumah. Tamu yang hendak masuk ke rumah membersihkan diri di sini. 

Menurut cerita, kulah ini juga digunakan sebagai lokasi melihat calon menantu dari jauh saat si anak perempuan menimba air.

Selain bangunan rumah, di kawasan tersebut juga terdapat beberapa karya seni yang menghiasi rumah adat yang dibuat oleh beberapa seniman ternama seperti:

Pintor Sirait adalah seorang pematung bahan logam kelahiran Jerman berdarah Batak. Membuat karya berupa replika “Bunga Kemangi” yang terinspirasi dari salah satu ukiran yang ada di rumah adat.

Syahrizal Zain Koto atau lebih dikenal Syahrizal Koto adalah seorang pematung kelahiran Padang yang tinggal di Yogyakarta. Membuat karya patung berjudul “Penari”. Patung ini menghiasi sisi selatan Griya Kilen.

Yani Maryani Sastranegara, merupakan salah satu pematung wanita kelahiran Rangkasbitung, Banten. Karyanya yang menghiasi rumah adat Yasa Amrta yaitu “Sepasang Pohon Randu”. Selain karya seni tersebut, juga terdapat plat tembaga dengan puisi yang sangat indah berjudul “Kidung Hening Taru Raya” yang menceritakan suasana inspirasi karya seni tersebut.

Ketut Winata, pematung bahan logam kelahiran Bali, membuat beberapa karya yang menghiasi kawasan rumah adat, yaitu:

Lampu Bollard bermotif daun Tembakau menyerupai gunungan wayang dengan bunga Cengkeh yang menerangi sepanjang jalan setapak di sana.

Lampu tiang taman bermotif daun Tembakau di dasarnya dan tangkai lampu berhiaskan bunga Cengkeh. Bahan dasar tiang lampu tersebut adalah tembaga sehingga lama kelamaan terlihat berwarna hijau akibat oksidasi. Lampu ini menerangi sekitar rumah baik depan atau sisi-sisi rumah.

Tiang bendera dengan motif daun Tembakau di dasar silinder tiangnya, terbuat dari logam tembaga yang berwarna hijau senada dengan tiang lampu taman. Tiang ini sebagai tempat bendera Sang Saka Merah Putih berkibar.

Sepasang patung naga yang terbang di awan menghiasi sisi selatan Griya Wetan. Karya seni ini terbuat dari bahan tembaga yang berwarna hijau.

F. Widayanto adalah seniman patung dan keramik kelahiran Jakarta. Karyanya yang berupa tegel mozaik tiga dimensi terhampar di semua lantai rumah adat dan bangunan kulah serta sumur rumah adat.

Tanda Tangan Seniman F. Widayanto

Lantai Mozaik Griya Ageng, Motif Daun Pisang dan Kupu-kupu 

Lantai Mozaik Griya Kulon, Motif Daun Talas, Seikat Padi dan Capung

Lantai Mozaik Griya Wetan, Motif Daun Talas dan Kupu-kupu 

Dinding Mozaik Kulah, Motif Daun Tembakau serta Bunga Cengkeh, dan Kupu-kupu dengan Merpati 

Armonia Choir Indonesia

Armonia Choir Indonesia didirikan pada tanggal 9 September 2002, yang diprakarsai oleh Ibu Giok Hartono. Paduan suara Armonia ini beranggotakan kaum perempuan yang memiliki kesamaan minat dan cinta terhadap seni dan budaya. Saat ini Armonia memiliki 37 orang anggota aktif di bawah bimbingan Bapak Baruno Wibowo selaku Konduktor, Ibu Giok Hartono selaku Penasihat dan Ibu Jo Soek Fa, selaku Ketua.

Dalam melestarikan budaya Indonesia, Armonia Choir aktif membawakan lagu-lagu daerah, lengkap dengan tari dan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia yang dapat disaksikan melalui kanal Youtube Armonia Choir Indonesia

Armonia Choir juga aktif mengikuti berbagai konser, festival dan pagelaran, baik di dalam maupun di luar negeri, diantaranya:

  • Konser Tunggal bertajuk “Christmas with Armonia”, 2023, Kempinski Ballroom, Jakarta
  • Festival Indonesia-Korea, 2023, Seoul, Korea Selatan
  • Christmas Pukat Concert tahun 2022, 2019, 2018, 2016, Ciputra Artpreneur, Jakarta
  • Indonesia Moscow Festival, 2019, Moscow, Rusia
  • Art of Nusantara Festival, Indonesian Embassy (KBRI), 2019, Bangkok, Thailand
  • Singapore National Day 2017, Kedutaan Singapura, Jakarta.
  • HUT RRI 2017 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta
  • HUT RRI 2016 “Kopral Jono”, Gedung Kesenian Jakarta, Indonesia
  • Konser Indonesia Pusaka, 2015, Carnegie Hall, New York, USA
  • Konser Indonesia Pusaka, 2012, UNESCO, Paris, Perancis
  • Gala Konser Indonesia Pusaka, Istana Kepresidenan, 2011, Bogor, Indonesia
  • Gala Konser Indonesia Pusaka, Istana Kepresidenan, 2011, Bogor, Indonesia
  • Konser Indonesia Pusaka, 2010, Melbourne Recital Center, Australia

Bertepatan dengan ulang tahun ke-20, Armonia merilis single berjudul “Melodi Cinta”. Lagu ini menceritakan kebersamaan para anggota Armonia Choir yang telah terjalin selama 20 tahun ini. Armonia Choir selalu ingin memberikan inspirasi bagi kalangan muda dan usia lanjut untuk terus berkarya, berseni dan berbudaya bagi negara Indonesia tercinta.

Menu Makanan

Ledre Intip Pisang adalah kuliner tradisional yang terbuat dari beras ketan yang dimasak setengah matang hingga menjadi intip. Setelah matang diberi potongan pisang dan dilipat menjadi dua. Kulit bagian luarnya sengaja dibuat berwarna kecokelatan sedikit gosong sehingga disebut ledre intip.

Makanan ini sudah ada sejak jaman dahulu dan tertulis di buku Kuliner Jawa dalam Serat Centhini. Namun saat ini, penjual ledre intip pisang sudah jarang dijumpai.

Otak-otak merupakan makanan khas Indonesia yang populer di kawasan Selat Malaka dan Selat Karimata. Makanan ini tersebar luas di berbagai kota pesisir pantai di Sumatra dan Jawa. Hidangan ini terbuat dari ikan tenggiri cincang, dibalut daun pisang, dipanggang, dan disajikan dengan saus kacang.

Sate Serepeh adalah makanan khas yang terkenal dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Serepeh berasal dari kata repeh yang berarti bumbu yang kemerahan. Umumnya sate ayam berbumbu kacang namun bumbu Sate Serepeh berbahan dasar gula Jawa yang ditumbuk halus kemudian dicampur dengan santan kental yang gurih.

Selat Solo adalah hidangan khas Solo yang mendapat pengaruh dari Eropa. Pada masa kolonial Hindia Belanda, orang-orang Eropa membawa bahan-bahan masakan serta teknik-teknik memasak khas Eropa ke Indonesia.

Hidangan ini merupakan perpaduan antara bistik khas Eropa, salad dan sup dengan selera Jawa. Pengaruh Eropa dapat dilihat dari penggunaan mustard dan kecap Inggris, sementara selera Jawa yang cenderung manis dapat dirasakan dari penggunaan kecap manis.

Mie Kopyok disajikan dengan kombinasi dari mie, lontong, tauge, irisan tahu pong yang diberi kuah dan bumbu air bawang putih serta sambal dan remasan kerupuk gendar di atasnya.

Menu kuliner khas Semarang ini disebut Mie Kopyok karena larutan bumbu bawang garam yang ditaruh dalam botol itu dituang ke dalam piring dengan cara dikopyok.

Es Podeng adalah salah satu jenis hidangan pencuci mulut khas Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdiri dari podeng yang terbuat dari tepung hunkwe (bukan dari agar agar), disajikan dengan setup buah nanas dan kolang kaling. Hunkwe adalah tepung yang terbuat dari pati kacang hijau.

Jaman dahulu menu Es Podeng sering ditemui saat ada hajatan perkawinan sehingga namanya lebih sering dikenal dengan Es Podeng Manten (Manten = Pengantin).

Wedang Tahok merupakan makanan tradisional yang dibawa oleh pendatang dari Cina yang kemudian menetap di Pasar Gede, Solo.

Dalam buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka karya Dawud Achroni disebutkan Tahok merupakan salah satu makanan khas Tionghoa. Nama Tahok berasal dari Tahoa. Nama itu memiliki dua kata, yaitu tao atau teu yang berarti kacang kedelai dan hu yang berarti lumat. Di Semarang dan Jakarta, Tahok disebut kembang tahu. Orang Surabaya menyebutnya Tawa.

Testimony